Rabu, 19 Agustus 2026

CATATAN HATI

Jeritan Hati di Tengah Cobaan Gempa


Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa seakan-akan cobaan datang bertubi-tubi. Kita berusaha berdiri, mencoba menata kembali kehidupan, tetapi tiba-tiba ujian lain datang dan kembali mengguncang hati. Itulah yang saya rasakan hari ini.


Pada tanggal 13 Agustus 2025, rumah yang baru saya bangun mengalami musibah. Sebagian dinding rumah roboh dan bahkan mengenai rumah tetangga. Saat itu hati saya hancur. Begitu banyak tenaga, pikiran, waktu, dan materi yang telah saya korbankan untuk membangun rumah tersebut. Namun, di tengah kesedihan dan kerugian yang begitu besar, saya masih bersyukur kepada Tuhan karena tidak ada korban jiwa. Saya pun bersujud dan mengucap syukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya.


Saya mencoba bangkit dari peristiwa itu. Perlahan-lahan saya berusaha menerima keadaan dan menata kembali apa yang telah rusak. Saya percaya, kehilangan materi masih bisa dicari dan kerusakan masih bisa diperbaiki. Yang terpenting adalah keselamatan keluarga dan orang-orang di sekitar saya.


Namun, tepat pada 15 Agustus 2026, cobaan itu kembali datang.


Pagi tadi, sekitar pukul 05.40, ketika saya, istri, dan anak masih tertidur di lantai dua rumah, tiba-tiba bumi berguncang begitu dahsyat. Guncangan itu membangunkan kami dari tidur. Dalam keadaan panik dan penuh ketakutan, kami segera bangun dan berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri.


Saat itu, saya tidak mampu menahan air mata. Saya menangis sambil memohon pertolongan kepada Tuhan. Dalam hati saya hanya ada satu permohonan:  Tuhan, lindungilah kami. Jauhkanlah kami dari segala marabahaya. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada keluargaku.


Setelah keadaan mulai tenang, saya kembali melihat rumah. Hati saya kembali terasa sesak. Sebagian rumah mengalami kerusakan. Beberapa dinding di ruang tamu retak akibat guncangan gempa.


Saya kembali teringat pada kejadian setahun yang lalu. Rasanya seperti luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini kembali disentuh oleh cobaan yang baru. Saya kembali dihadapkan pada kerugian materi, kembali harus memikirkan bagaimana memperbaiki rumah, dan kembali harus menguatkan hati.


Tetapi kali ini saya belajar satu hal yang jauh lebih penting: rumah bisa rusak, harta bisa hilang, dan materi bisa dicari kembali, tetapi keselamatan keluarga adalah anugerah yang tidak ternilai harganya.


Saya mungkin boleh menangis. Saya boleh merasa lemah. Saya boleh bertanya mengapa cobaan ini datang lagi. Tetapi saya tidak boleh kehilangan harapan.


Saya percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan saya dan keluarga. Mungkin jalan yang sedang kami lalui terasa berat, tetapi saya yakin akan selalu ada kekuatan untuk melewatinya.


Hari ini saya kembali bersujud dan bersyukur.


Bukan karena rumah kami tidak mengalami kerusakan, tetapi karena kami masih diberi kesempatan untuk berkumpul, saling memeluk, dan menyaksikan satu sama lain dalam keadaan selamat.

Tuhan, jika ini adalah ujian bagi kami, berikanlah kami kekuatan untuk menjalaninya. Jika ini adalah jalan untuk mengajarkan kami tentang kesabaran, ajarlah kami untuk menerimanya dengan hati yang ikhlas. Dan jika kami harus membangun kembali apa yang telah rusak, berikanlah kami rezeki, kesehatan, dan kekuatan.

Rumah boleh retak, tetapi jangan biarkan hati kami ikut retak.

Bangunan boleh terguncang, tetapi jangan biarkan iman kami ikut runtuh.

Kami mungkin kehilangan materi, tetapi jangan biarkan kami kehilangan harapan.


Hari ini saya menangis bukan karena saya menyerah.


Saya menangis karena saya sadar bahwa di balik setiap cobaan, masih ada tangan Tuhan yang menjaga kami.


Terima kasih Tuhan, Engkau masih menyelamatkan saya, istri, dan anak saya. Terima kasih karena di tengah dahsyatnya gempa, kami masih diberi kesempatan untuk bersama dan memulai kembali.


Semoga setelah badai cobaan ini berlalu, akan datang hari yang lebih tenang, lebih kuat, dan lebih penuh berkat bagi keluarga kami.


Amin. 😭😭😭

By. Adrianus Manjur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar